STAR Insight, Market Update 05 Desember 2022

Perlambatan Kenaikan Suku Bunga Segera Terjadi, S&P 500 naik 1.1%

Pasar saham Amerika Serikat S&P 500 ditutup hijau dengan kenaikan 1.13% sepan-jang perdagangan pekan lalu meskipun 4 hari pasar diperdagangkan turun. Kenaikan pekan lalu berasal dari kenaikan yang signifikan pada hari Rabu lalu sebanyak 3.1% dalam satu hari. Ini disebabkan oleh komentar dari Jerome Powell yang mensinyalir bahwa The Fed dapat mulai memperlambat kenaikan suku bunga mulai dari per-temuan pada bulan Desember ini. Sementara pada hari-hari lainnya penurunan disebabkan oleh sentimen negatif dari China mengenai zero-covid policy nya, serta protes dan demo yang terjadi di banyak provinsi di China. Secara keseluruhan, selama seminggu lalu hampir seluruh sektor ditutup hijau, dengan kenaikan tertinggi pada sektor Telekomunikasi sebanyak 3.3%, Consumer Discretionary sebanyak 2.1%, serta Health Care sebanyak 1.9%. Sementara itu sektor Energi mengalami penurunan sebanyak -1.9% yang disebabkan dari penurunan harga minyak dunia.

Inflasi Bulan November dilaporkan 5.42%

Inflasi pada bulan November dilaporkan sebesar 5.42%, dimana angka ini lebih ren-dah dibandingkan pada bulan Oktober lalu sebesar 5.7%. Penurunan inflasi ini di-dorong oleh penurunan harga makanan sebanyak -0.2% dibandingkan pada bulan sebelumnya. Harga cabai merah mengalami penurunan terbesar sebanyak -22% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara harga bawang putih mengalami penurunan -0.9% dibandingkan bulan sebelumnya. Meskipun demikian, harga ma-kanan diperkirakan akan kembali meningkat dalam waktu dekat oleh karena masa liburan serta penurunan pasokan untuk telur, tahu, dan tempe. Para analis mengek-spektasikan inflasi tahun 2022 akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, di level 5.5%. Untuk tahun 2023, inflasi di Indonesia diperkirakan akan berada di level atas 5% sepanjang tahun nya.

APBN Defisit 0.91% PDB, Pertama Kali nya di 2022

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Oktober 2022 tercatat defisit. Hal ini merupakan yang pertama kali nya terjadi dalam tahun anggaran 2022. APBN sudah mengalami defisit Rp 169,5 triliun atau -0,91 terhadap PDB. Meskipun demikian, defisit ini masih lebih rendah dari perkiraan pemerintah. Untuk alasan ter-jadi nya defisit adalah karena tingginya kebutuhan pemerintah untuk membayar sub-sidi energi, khususnya bahan bakar minyak. Selain itu, pendapatan negara mengalami perlambatan dari pertumbuhan pajak pendapatan yang lebih rendah di 60.3% (dibandingkan 64.3% pada bulan September lalu). Kedepannya, analis mem-perkirakan pendapatan negara akan perlahan-lahan menurun disebabkan oleh nor-malisasi harga-harga komoditi seperti batu bara, CPO, serta karet.

Key Takeaways:

Indeks saham pasar Amerika Serikat S&P 500 ditutup lebih tinggi sebanyak 1.1% sepanjang perdagangan pekan lalu didukung oleh komentar Jerome Powell yang mengatakan bahwa The Fed dapat mulai memperlambat kenaikan suku bunga mulai dari pertemuan pada bulan Desember ini. Meskipun demikian, masih ada katalis negatif dari China mengenai zero-covid policy nya, serta protes dan demo yang terjadi di banyak provinsi di China.

Untuk ekonomi dalam negeri, inflasi pada bulan November lalu dilaporkan sebesar 5.7% didorong oleh penurunan harga makanan, terutama cabai merah yang mengalami penurunan sebanyak -22% dibandingkan bulan sebelumnya, serta penurunan harga bawang putih yang lebih rendah -0.9% dibandingkan bulan sebelumnya. Un-tuk ekspektasi tahun 2022, diperkirakan berada di level 5.5%, lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya.

Dalam berita ekonomi lainnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Oktober 2022 tercatat defisit untuk per-tama kali nya di tahun anggaran 2022. Besarnya defisit ini adalah -0.91% terhadap PDB. Hal ini terjadi karena tingginya kebutuhan pemerintah untuk membayar subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak. Selain itu, pendapatan negara mengalami perlambatan dari pertumbuhan pajak pendapatan yang lebih rendah dibandingkan bu-lan sebelumnya. Untuk kedepannya, analis memperkirakan penda-patan negara akan perlahan-lahan menurun disebabkan oleh nor-malisasi harga komoditi.

ANALYSTS CERTIFICATION

The views expressed in this research report accurately reflect the analysts’ personal views about any and all of the subject securities or issuers; and no part of the research analyst’s compensation was, is, or will be, directly or indirectly, related to the specific recommendations or views expressed in the report.

DISCLAIMERS

This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness. Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendations contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities. PT. Surya Timur Alam Raya or its affiliates may seek or will seek investment or other business relationships with entities in this report.