STAR Insight, Market Update 20 Maret 2023

Sentimen Positif terhadap Kebijakan The Fed, S&P 500 menguat 2.47%

Pasar saham Amerika Serikat S&P 500 ditutup naik sebanyak 1.76% sepanjang perdagangan pekan lalu. Awal pekan lalu dimulai dengan penurunan setelah European Central Bank (ECB) mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps (0.5%). Yang menarik, para pelaku pasar terlihat mengabaikan laporan ketenagakerjaan mingguan yang menunjukkan penurunan angka pengangguran ke 192 ribu, dibandingkan angka konsensus di 205 ribu, yang artinya masih menunjukkan ketenagakerjaan yang kuat. Katalis pekan ini berasal dari ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan memberikan jeda sementara untuk kenaikan suku bunga, setelah kejadian pada sektor perbankan, khususnya SVB (Silicon Valley Bank) dan Silvergate. Selain itu, saham perbankan di AS juga terlihat mulai stabil. 9 dari 11 sektor S&P 500 ditutup hijau, dengan kenaikan tertinggi pada sektor Teknologi dan Communication Services. 2 sektor yang ditutup merah adalah Consumer Staples dan Real Estate.

BI pertahankan suku bunga pada 5.75%

Sebagaimana yang diharapkan konsensus, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya tetap pada 5,75%, mempertahankan bahwa level suku bunga sudah cukup untuk menahan tekanan inflasi dan mendukung nilai tukar Rupiah. BI juga menegaskan bahwa kebijakan moneter akan didasarkan pada faktor-faktor domestik seperti inflasi dan prospek pertumbuhan, bukan mengikuti jalur kenaikan suku bunga bank sentral lainnya. Menanggapi gejolak pasar baru-baru ini yang disebabkan oleh runtuhnya beberapa bank regional AS dan masalah di Credit Suisse, BI mengatakan telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah. BI juga menyatakan kepercayaannya pada ketahanan sektor perbankan lokal, dengan mengutip rasio kecukupan modal yang kuat, tingkat kredit bermasalah yang rendah, dan sumber pendanaan yang beragam. Uji stress test BI menunjukkan bahwa bank-bank lokal mampu bertahan dari guncangan eksternal tanpa dampak signifikan pada kinerjanya.

Surplus Perdagangan Indonesia diatas Konsensus Februari

Surplus perdagangan pada bulan Februari melebihi ekspektasi pasar dengan selisih yang cukup besar, mencapai USD 5.5 miliar dibandingkan dengan perkiraan konsensus sebesar USD 3.3 miliar. Surplus tersebut dipacu terutama oleh penurunan impor, dengan produk non-energi mencatat surplus signifikan sebesar USD 6.7 miliar. Namun, sektor minyak dan gas masih mencatat defisit sebesar USD 1.2 miliar, meskipun sudah mengalami perbaikan dibandingkan defisit USD 3 miliar pada Juli 2022. Penurunan defisit ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pengiriman minyak mentah, yang melonjak 45% selama bulan tersebut, sementara impor komoditas tersebut turun 30% YoY. Dalam perspektif regional, neraca perdagangan Indonesia telah melebihi kinerja negara-negara Asia lain seperti Vietnam (USD 2.8 miliar) dan Taiwan (USD 2.4 miliar). Namun, kenaikan surplus perdagangan ini tidak sepenuhnya positif karena terutama disebabkan oleh penurunan tajam impor. Kami memperkirakan surplus tersebut kemungkinan akan kembali normal (USD 3-4 miliar) karena impor tertunda, yang mengimplikasikan risiko lebih lanjut bagi IDR dalam jangka pendek.

Key Takeaways

Pasar saham Amerika Serikat S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 1.76% pada pekan lalu, setelah para pelaku pasar mengabaikan laporan ketenagakerjaan dan fokus pada ekspetasi bahwa The Fed akan menunda kenaikan suku bunga setelah kejadian pada sektor perbankan.

Untuk ekonomi dalam negeri, BI mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5.75%, menyatakan bahwa tingkat suku bunga sudah cukup untuk menahan tekanan inflasi, BI juga menegaskan bahwa kebijakan moneter akan didasarkan pada faktor-faktor domestik. Selain itu, BI juga menyatakan kepercayaannya pada ketahanan sektor perbankan lokal dengan rasio kecukupan modal yang kuat dan sumber pendanaan yang beragam. Dalam berita ekonomi lainnya, surplus perdagangan Indonesia pada bulan Februari mencapai USD 5.5 miliyar, melebihi ekspetasi pasar dengan selisih yang cukup besar. Namun, kenaikan surplus ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan tajam impor, yang dapat mengimplikasikan rasio lebih lanjut bagi IDR dalam jangka pendek.

ANALYSTS CERTIFICATION

The views expressed in this research report accurately reflect the analysts’ personal views about any and all of the subject securities or issuers; and no part of the research analyst’s compensation was, is, or will be, directly or indirectly, related to the specific recommendations or views expressed in the report.

 

DISCLAIMERS

This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness. Opinions expressed are subject to change without notice. Contents in this research is intended to be used and must be used for informational purposes only. It is very important to do your own analysis before making any investment based on your own personal circumstances. You should take independent financial advice from a professional in connection with, or independently research and verify, any information that you find on our report and wish to rely upon, whether for the pur-pose of making an investment decision or otherwise. Any recommendations contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities. PT. Surya Timur Alam Raya or its affiliates may seek or will seek investment or other business relationships with entities in this report.